Mengapa satu kilogram di Sabang sama dengan satu kilogram di Merauke
Satuan ukur hanya berguna jika semua orang mengacu pada hal yang sama, dan acuan itu pernah berupa sebongkah logam.

Setiap hari kita mempercayai angka di timbangan pasar, di dispenser bensin, dan di meteran listrik tanpa berpikir panjang. Kepercayaan itu bersandar pada satu kesepakatan diam-diam: kilogram, liter, dan meter yang dipakai di satu tempat sama persis dengan yang dipakai di tempat lain. Bagaimana kesepakatan itu dijaga?
Dahulu, satuan diturunkan dari tubuh dan kebiasaan setempat. Sejengkal, sedepa, sehasta, segenggam. Praktis untuk tawar-menawar di satu pasar, tetapi kacau begitu barang berpindah kota. Jengkal pedagang dan jengkal pembeli tidak pernah sama, dan sengketa pun mudah lahir. Perdagangan jarak jauh dan ilmu pengetahuan sama-sama membutuhkan acuan yang tidak bergantung pada siapa yang mengukur.
Baca juga: Ubah satu hal saja: mengapa eksperimen yang baik terasa membosankan
Dari bongkahan logam ke tetapan alam
Jawaban pertama adalah membuat benda acuan. Selama lebih dari seabad, kilogram didefinisikan sebagai massa sebuah silinder logam yang disimpan rapat di sebuah lembaga di Prancis, dan salinannya dibagikan ke negara-negara di dunia. Setiap timbangan, pada akhirnya, dikalibrasi lewat rantai perbandingan yang bermuara pada silinder itu.
Masalahnya, benda fisik bisa berubah. Debu menempel, permukaan terkikis saat dibersihkan, dan salinan-salinan di berbagai negara perlahan tidak lagi persis sama dengan aslinya. Kalau acuan berubah, seluruh dunia ikut berubah tanpa ada yang bisa membuktikan siapa yang benar. Karena itu, para ilmuwan metrologi beralih ke acuan yang tidak bisa aus: tetapan alam. Meter kini didefinisikan lewat kecepatan cahaya, detik lewat getaran atom tertentu, dan kilogram lewat sebuah tetapan dasar fisika kuantum. Alam tidak menyimpan salinan di lemari; alam sama di mana pun ia diukur.
Rantai yang sampai ke timbangan pasar
Bagi pedagang di pasar, perubahan ini tidak terasa, dan memang begitulah seharusnya. Yang berubah adalah ujung paling atas dari sebuah rantai panjang. Laboratorium standar nasional mengukur dirinya terhadap tetapan alam, laboratorium kalibrasi mengukur dirinya terhadap laboratorium nasional, dan petugas metrologi daerah menera timbangan pasar dengan anak timbangan yang sudah dikalibrasi. Stiker tera yang menempel di timbangan sayur adalah ujung bawah rantai itu.
Jadi ketika kita membeli sekilo beras tanpa curiga, kita sedang menikmati salah satu kesepakatan paling sunyi dan paling luas dalam sejarah manusia. Satuan bukan sekadar angka; ia adalah janji bersama bahwa satu kilogram berarti hal yang sama bagi semua orang.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.