Hidrogen bukan sumber energi, melainkan wadah: cara membaca kabar bahan bakar masa depan
Hidrogen tidak ditambang di mana pun. Setiap kilogramnya harus dibuat dengan energi lain, dan dari situlah hitungannya dimulai.

Setiap beberapa bulan kabar tentang hidrogen kembali ramai: kendaraan, kapal, atau pabrik baja yang akan berjalan dengan gas paling ringan di alam semesta, dan satu-satunya yang keluar dari knalpotnya adalah air. Gambaran itu benar sejauh soal knalpot. Yang sering tidak disebut adalah dari mana hidrogennya datang, dan di situlah seluruh pertanyaan sebenarnya berada.
Tidak ada tambang hidrogen
Baca juga: Beban dasar, beban puncak, dan pembangkit yang hanya menyala saat dipanggil
Hidrogen memang unsur paling melimpah di alam semesta, tetapi di Bumi ia hampir selalu terikat pada unsur lain: dengan oksigen menjadi air, dengan karbon menjadi gas alam dan minyak. Untuk mendapat hidrogen murni, ikatan itu harus diputus, dan memutus ikatan butuh energi. Cara yang paling umum dipakai industri adalah memanaskan gas alam dengan uap, yang melepaskan hidrogen sekaligus karbon dioksida. Cara lain adalah mengalirkan listrik ke air sehingga terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Yang kedua bersih hanya jika listriknya bersih. Hidrogen, dengan kata lain, adalah cara menyimpan dan memindahkan energi yang sudah ada, bukan menambahnya. Ia lebih mirip baterai daripada tambang.
Setiap perpindahan membayar pajak
Karena hidrogen adalah wadah, pertanyaan yang adil adalah berapa yang tersisa setelah energi dimasukkan, dibawa, dan dikeluarkan lagi. Mengurai air memakan lebih banyak energi daripada yang nanti dikembalikan hidrogen saat dibakar atau dipakai dalam sel bahan bakar. Memampatkannya ke tangki bertekanan tinggi atau mendinginkannya sampai cair memakan energi lagi. Molekulnya begitu kecil sehingga ia merembes lewat celah yang gas lain tidak bisa lewati, dan membuat logam tertentu menjadi getas. Setiap langkah mengurangi bagian yang akhirnya berguna, dan untuk banyak keperluan, memakai listrik secara langsung lebih hemat daripada mengubahnya menjadi hidrogen terlebih dulu.
Di mana hidrogen justru masuk akal
Kekurangan itu tidak membuat hidrogen tak berguna; ia membuatnya pemilih. Ada proses yang sulit dijalankan dengan listrik saja, seperti pembuatan pupuk dan pengolahan logam, yang sudah memakai hidrogen dalam jumlah besar dan hanya perlu sumber yang lebih bersih. Ada pula kebutuhan menyimpan energi berbulan-bulan, misalnya kelebihan surya di musim kemarau, yang terlalu lama untuk baterai. Di ceruk-ceruk seperti itu hidrogen bisa menjadi jawaban yang tepat.
Jadi ketika membaca kabar hidrogen, tanyakan dua hal: energinya datang dari mana, dan mengapa tidak dipakai langsung. Kalau jawabannya meyakinkan, kabar itu layak diikuti. Kalau tidak, yang bersih baru knalpotnya.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.