Dipol Samudra Hindia: tetangga El Nino di sisi barat yang ikut mengatur kemarau kita
Bukan hanya Pasifik yang menentukan panjang kemarau. Samudra Hindia punya ayunannya sendiri, dan ia bisa searah atau berlawanan.

Kemarau di akhir Juni biasanya diukur orang dengan satu pertanyaan: El Nino atau bukan? Pasifik memang penentu besar, tetapi Indonesia diapit dua samudra, dan yang di sisi barat, Samudra Hindia, punya ayunannya sendiri. Para ahli iklim menyebutnya dipol Samudra Hindia, dan untuk kemarau di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, ia sering sama pentingnya.
Dua kutub yang bergantian hangat
Baca juga: Umpan balik es dan albedo: mengapa Bumi yang mencair menyerap lebih banyak panas
Dalam keadaan biasa, air di bagian timur Samudra Hindia, dekat pantai barat Sumatra dan selatan Jawa, cukup hangat untuk menguap deras dan membentuk awan hujan. Pada tahun-tahun tertentu, polanya terbalik: perairan dekat kita mendingin, sementara perairan di sisi barat, dekat Afrika timur, menghangat. Keadaan ini disebut fase positif. Air yang lebih dingin menguap lebih sedikit, udara di atasnya cenderung turun dan kering, dan hujan yang seharusnya mampir ke Sumatra dan Jawa justru bergeser ke seberang samudra. Fase negatif adalah kebalikannya: perairan dekat kita lebih hangat dari biasanya, dan kemarau cenderung lebih basah.
Angin dan laut yang saling mendorong
Seperti sepupunya di Pasifik, dipol ini adalah tarian antara angin dan laut. Angin yang bertiup dari timur mendorong air permukaan yang hangat menjauh dari Sumatra dan menarik air dingin dari kedalaman untuk menggantikannya. Air yang lebih dingin membuat udara di atasnya lebih kering dan lebih berat, yang memperkuat angin yang sama. Lingkaran ini biasanya mulai terbentuk menjelang pertengahan tahun, mencapai puncaknya saat kemarau kita paling dalam, dan bubar ketika angin monsun berganti arah di akhir tahun. Itulah sebabnya pengaruhnya paling terasa pada panjang dan kerasnya kemarau, bukan pada musim hujan.
Ketika dua samudra bicara bersamaan
Yang membuat prakiraan musim menjadi rumit adalah kedua samudra ini tidak selalu sepakat. Fase positif dipol yang bertepatan dengan El Nino menghasilkan kemarau yang sangat panjang dan rawan kebakaran lahan. Fase negatif dapat meredam El Nino, atau sebaliknya membuat kemarau di tahun tanpa El Nino tetap basah dan menyulitkan panen. Prakiraan musim yang baik karena itu selalu membaca keduanya sekaligus, dan ketika lembaga cuaca menyebut kemarau akan lebih kering dari normal, sering kali Samudra Hindia yang menjadi alasannya, bukan Pasifik.
Bagi petani dan pengelola waduk, pelajarannya sederhana: lihat ke barat sesering melihat ke timur. Laut yang diam-diam mendingin di lepas pantai Sumatra bisa lebih menentukan isi lumbung daripada kabar El Nino di seberang dunia.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.